Rencananya, Marthadinata Bersaksi di PBB
October 11, 1998

Media Indonesia

JAKARTA (Media): Tewasnya Marthadinata, akrab dipanggil Ita, 17, anggota Tim Relawan, secara sadis mengundang reaksi keras Perserikatan Solidaritas Perempuan (PSP). Tapi sejauh ini, Kapolda Metro Jaya menilai kematian wanita belia yang sedang menyiapkan kesaksian kasus perkosaan 13-14 Mei ke lembaga perlindungan HAM internasional itu, tidak bermuatan politis.

''Kematiannya masih dalam batas kriminal murni. Tidak ada unsur politis,'' jawab Kapolda Mayjen Pol Noegroho Djajoesman, kemarin.

Ita ditemukan mengenaskan di kamar rumahnya Jl Berlian III No 25 Jakarta Timur, Jumat (9/10) sore. Siswi kelas III SMA Pascalis itu dirajam senjata tajam dengan luka di dada, perut, ulu hati, lengan kanan, dan lehernya digorok (Media, 10/10).

Menurut keterangan di rumah duka, Ita merupakan salah satu korban perkosaan dalam kerusuhan pertengahan Mei yang kemudian bersama ibunya, Ny Wiwin, masuk Tim Relawan. Seharusnya, dalam waktu dekat, ia diberangkatkan ke Amerika Serikat untuk memberikan kesaksian di PBB.

Melalui faksimile yang diterima Media, kemarin, PSP menyatakan kematian Ita menimbulkan tanda tanya besar karena akhir-akhir ini teror sedang disasarkan kepada pembela kemanusiaan.

Ita dan ibunya, kata Yuniyanti Chuzalfah dan Wahyu Susilo dari PSP, sedang mempersiapkan kesaksian korban perkosaan pada sejumlah lembaga perlindungan HAM internasional. ''Kematian Ita betul-betul menyisakan kehilangan yang sangat dalam bagi gerakan antikekerasan terhadap perempuan,'' ujar mereka.

Karena itu, PSP menyerukan pemerintah mengusut tuntas kasus pembunuhan tersebut dan mengumumkan secara transparan dalam waktu sesingkatnya. Mereka juga minta pemerintah mengusut teror yang ditujukan terhadap aktivis kemanusiaan, dan melindungi warga negara dari tindak kekerasan.

Soal status Ita yang juga korban perkosaan, Kapolda Metro mengaku tidak pernah menerima laporan. ''Kami akan minta keterangan orang yang mengatakan Ita sebagai korban perkosaan pertengahan Mei. Sebab tim pencari fakta kepolisian yang menelusuri kerusuhan pertengahan Mei, tidak menemukan data adanya korban perkosaan,'' jelasnya.

Dari hasil visum yang dilakukan Dr Munim Idries di RSCM, Sabtu (10/10), selain kekerasan fisik pada tubuh korban, juga ditemukan tanda-tanda penyimpangan seksual pada kelaminnya. Munim tidak menjelaskan apakah tanda penyimpangan fisik itu masih baru atau sudah berlangsung beberapa bulan. ''Tandanya seperti pada kasus Christine,'' kilah Munim.

Christine ditemukan tewas di Ancol dalam keadaan terpotong, beberapa tahun lalu, dengan kondisi dubur membesar menandakan korban sering melakukan sodomi.

Rekan Ita di SMU Pascalis kelas III jurusan sosial tidak percaya korban melakukan hubungan badan sejauh itu karena belum punya pacar. ''Orangnya pendiam dan penggemar komik berat. Kami sering menyewa komik ke rumahnya. Ia sendirian di rumah dan pintu rumahnya tidak pernah terkunci,'' kata seorang teman dekatnya.

Tetangga membenarkan Ita sering sendirian di rumah karena orang tuanya berjualan. Belakangan Ita kerap dikunjungi lelaki tinggi besar mengendarai Vespa. Mengenai hal ini, ayah korban, Leo Suryadinata, mengatakan lelaki itu adalah guru agamanya. (Dex/M-2)

bi

Hak cipta 1997-1998 Media Indonesia

Make your own free website on Tripod.com